Senin, Maret 30, 2009

Coffeeshop Conversations : Jeritan seorang pengemis (tentang cinta)..

-aku menghampiri...

Seorang pria tua yang duduk bersimpuh..
Begitu lunglai..
Terseok udara panas kota..
Lusuh dalam peluh..

Di ujung jalan..
Di ujung hidupnya..
Di tepi halaman..
Di tepian mimpinya..

-aku bertanya : "ada apa wahai Ayahanda, mengapa bermuram??.."

"Aku menyessaaaalll.."
Isaknya..

Dengan mata tua berair..
Meratapi genggaman hampanya..
Dengan hati sesak dan pedih..
Menyadari kesalahannya..

"Aku menyianyiakan cinta yang tulus diberikan kepadaku.."
Lanjutnya..

"aku acuh saat cinta itu menyapaku, aku membuang pandangku saat berpapasan, aku hapus fikirku saat ku mengingatnya,
aku,,, yang begitu arogan.."

"dan aku membiarkan cinta itu terbang, mengepak, menjauh,
mencari arah damai abadinya.."

"karna cinta itu tidak sederhana, tidak logis, rumit, bertele tele, penuh picisan, pengorbanan, pengertian, perasaan..
Itulah alasanku dulu.. Cihh!!"

"Saat itu aku hanya butuh pendamping, yang bisa menerimaku apa adanya..
Bukan tentang aku yang memikirkannya, bukan tentang aku yang mengerti dia, bukan tentang aku yang menjaga perasaanya.. Bukan.."

"buatku, cinta itu, adalah Bundaku, dan apa yang ku kerjakan.. Titik!! Pendampingku hanyalah orang yang bersedia berdiri disampingku, kapan saja aku membutuhkannya, dan untuk apa saja aku menginginkannya.."

"dan untungnya, atau sialnya?? Ku mempunyai banyak orang yang menawariku cinta, cintaa, dan cinnttaa!!
Aaahhhhh..
Dan ku tak mempedulikan mereka,,
Saat itu aku hanya meminta asistenku mencatat nama mereka, alamat, pekerjaan, nama orang tua,
dan sampah sampah formal kukumpulkan demi nama cinta yang mereka tawarkan!!"

"kau boleh berucap ku arogan, tak apa.. Aku memang arogan saat itu.. Aku mengakuinya..
Dan aku menyesal.."

"diantara sekian banyak orang yang menawariku cinta,,
ada permata, putih, suci, bercahaya dan berharga..
Dia tak menawarkan harta selain cintanya,, dia tak bergelimang harta,, tidak sama seperti yang lain..
Dia sederhana, dan cinta adalah persembahan utamanya untukku.. Yang diberikan dengan tulus ikhlas, jujur, berani, serius, penuh dengan perasaan, dan begitu indah..
Fikir warasku sekarang dapat menilai cintanya begitu indah..
*menarik napas..*
Namun dulu, dia hanya catatan kecil di laporan asistenku.. Bukan apa - apa..
Bukan..
Apa..
Apa.."

"dan Tuhan murka.. begitu murkanya padaku.."

"segala hal yang kupikir adalah masa depanku, segala hal yang kuanggap harta termewahku, segala hal yang kuanggap paling pantas untukku, segala haallll yang aku banggakann.. dimusnahkan olehNya,
tanpa kecuali.."

"Aku terlalu tinggi untuk menganggap kasihNya itu ada,,
ya, aku bodoh dan berdosa..
Aku terlalu sombong atas segala kasih dan cinta yang diberikan kepadaku..
Aku, yang terlalu mengagung-agungkan logika, demi egoku, demi kepuasanku.. Terbutakaaaannn.."

"dan aku bersyukur Tuhan telah menegurku.."

"perhatikan cinta yang menghampirimu Bujang, janganlah kau mengacuhkannya, karna mungkin, itulah cinta sejatimu, yang hakiki, setelah cintaNya, dan cinta dari orang tuamu.. Camkan dalam kepala pitakmu itu"

"bercerminlah pada aku,- besi berkarat, medali lusuh, piagam terlupakan,-bila kau sampai mengacuhkan cinta..
Karna kau tak akan pernah benar benar merasa mempunyai, sebelum kau kehilangan..
apalagi bila menyangkut cinta,
c.i.n.t.a..."

"sekarang Bujang, maukah kau membelikanku kopi dan sepotong roti goreng, aku belum makan hari ini.."

-aku menuntun beliau menuju kedai kopi..

4 komentar:

Vanillacious mengatakan...

"hmmm....na..na..na..syalalala...syubidubidu...." *pura2 ga tau padahal sok tau*

who am i mengatakan...

mba ini knapa siiihhh...
:P

who am i mengatakan...

mba ini knapa siiihhh...
:P

who am i mengatakan...

mba ini knapa siiihhh...
:P